Pengertian Majas dan Contohnya

Aktual.ID (Pengertian Majas) – Majas Menurut Para Ahli dan Jenis-Jenis, Macam-Macam Majas serta Contohnya merupakan hal yang sangat penting untuk Anda ketahui, karena dengan mengerti arti sebuah majas tersebut diharapkan agar Anda mampu merangkai sebuah kalimat dengan kata-kata yang lebih tepat, serta menggunakan bahasa yang baik dan benar. Untuk kali ini kami akan membahas mulai dari pengertian majas, dan jenis-jenis majas beserta contoh-contoh pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Majas adalah penggunaan gaya bahasa yang menarik untuk memperindah susunan dari sebuah kalimat supaya memberikan efek tertentu atau berkesan fantastis, baik secara tertulis ataupun lisan. Majas terbagi menjadi empat jenis, yaitu majas penegasan, majas perbandingan, dan majas sindiran, serta yang terakhir majas pertentangan.

Berikut ini akan Aktual.ID menguraikan masing-masing pengertian dari jenis majas tersebut beserta contohnya.

  1. Majas Penegasan

Pengertian majas penegasan adalah persesuaian kata-kata yang mengungkapkan sebuah penegasan untuk memberikan pengaruh kepada pembaca atau pendengar. Majas penegasan terbagi menjadi tujuh bagian, yaitu pleonasme, repetisi, paralelisme, tautologi, klimaks, anti klimaks, dan retorik. Pleonasme merupakan kiasan atau gaya bahasa yang berlebihan untuk menegaskan arti dari sebuah kata. Contoh: “Pesawat tempur itu terbang tinggi ke atas, kemudian menukik turun ke bawah dengan cepat.” Sedangkan repetisi merupakan gaya bahasa dengan pengulangan kata-kata sebagai penegasan. Contoh: “Marilah kita sambut putera bangsa kita, marilah kita sambut pembela bangsa kita, marilah kita sambut pahlawan bangsa kita.“

Sedangkan paralelisme merupakan pengulangan gaya bahasa yang biasa digunakan dalam puisi atau Surat. Contoh: “Kamu adalah matahariku. Kamu adalah bulanku. Kamu adalah bintangku.” Selanjutnya yaitu tautologi. Tautologi merupakan kiasan penegasan dengan mengulang kata beberapa kali dalam sebuah susunan kalimat dengan maksud sebagai penegas. Terkadang pengulangan kata tersebut menggunakan sinonim. Contoh: “Tidak, tidak, tidak mungkin kamu yang berbuat jahat. “

Gaya bahasa selanjutnya yaitu klimaks. Klimaks merupakan gaya bahasa yang menunjukkan beberapa hal dengan berturut-turut dan semakin lama semakin meningkat. Contoh: “Semua pegawai pemerintah mulai dari pegawai negeri sipil, perdana menteri, sampai presiden mengikuti upacara bendera di istana negara.” Sedangkan anti klimaks merupakan gaya bahasa yang menunjukkan beberapa hal dengan berturut-turut dan semakin lama semakin menurun. Contoh: “Semua golongan kasta masyarakat mulai dari orang kaya, orang menengah, dan orang miskin memperingati hari besar agama.” Selanjutnya adalah retorik. Retorik merupakan kiasan yang berupa susunan kalimat tanya, namun tidak perlu jawaban. Contoh: “Kata siapa menjadi orang kaya hanya cukup dengan berdoa saja?”

  1. Majas Perbandingan

Pengertian majas perbandingan adalah persamaan kata yang menunjukkan perbandingan untuk meningkatkan pengaruh kepada pembaca maupun pendengar. Majas perbandingan terbagi menjadi delapan bagian, yaitu: perumpamaan atau asosiasi, metafora, personifikasi, alegori, simbolik, metonimia, sinekdok dan simile. Majas perumpamaan atau asosiasi merupakan perbandingan kepada dua hal yang pada dasarnya berbeda, namun dianggap sama. Biasanya dalam majas ini ditandai dengan kata seperti, seumpama, laksana, bagaikan, dan bagai. Contoh: “Semangatnya tinggi bagaikan api yang berkobar.”

Sedangkan majas metafora merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan secara langsung berupa perbandingan kesesuaian. Pemakaian kelompok kata dengan arti yang bukan sebenarnya, tetapi sebagai gambaran berdasarkan persamaan atau perbandingan. Contoh dengan kata harta karun: “Anak adalah harta karun bagi seorang ibu.” Majas selanjutnya adalah majas personifikasi. Majas personifikasi merupakan kiasan yang membandingkan benda mati yang seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Contoh: “Angin puting beliung mengamuk dan merobohkan rumah warga.”

Untuk majas alegori biasanya berbentuk sebuah cerita dengan simbol-simbol. Gaya bahasa ini menyatakan suatu hal dengan sebuah kiasan atau gambaran. Contoh: “Kehidupan sebuah keluarga seperti kapal yang sedang mengarungi samudera, suami menjadi nahkoda, istri menjadi juru mudinya, terkadang harus menyelam lebih dalam untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.” Sedangkan simbolik merupakan gaya bahasa yang menggambarkan sesuatu dengan menggunakan benda, tumbuhan, atau binatang sebagai simbol. Contoh: “Wanita itu bekerja sebagai kupu-kupu malam.”

Metonimia merupakan gaya bahasa menggunakan label atau ciri khas dari sebuah benda untuk menggantikan benda itu sendiri. Contoh: “Dia suka menghisap djarum. (maksudnya rokok djarum super).” Sedangkan sinekdok merupakan gaya bahasa yang menyebutkan bagian benda untuk pengganti secara menyeluruh atau sebaliknya. Sinekdok dibagi menjadi dua, yaitu Pars pro toto yang menyebutkan bagian untuk menyeluruh, dan Totem pro parte yang menyebutkan secara menyeluruh tetapi untuk sebagian. Contoh Pars pro toto: “Per kepala mendapat santunan berupa beras.” Sedangkan contoh Totem pro parte: “Indonesia akan mengadakan lomba pencak silat tingkat provinsi.” Majas simile merupakan gaya bahasa dengan perbandingan tegas dengan kata depan dan penghubung, yaitu bagaikan, layaknya, ibarat, bak, bagai, umpama. Contoh: “Kamu bagaikan kumbang dan aku bunga mawarnya.”

  1. Majas Sindiran

Pengertian majas sindiran adalah gaya bahasa atau kiasan kata yang isinya menyatakan sebuah sindiran bagi pendengar ataupun pembaca. Majas sindiran terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu ironi, sinisme, dan sarkasme. Ironi merupakan kiasan kata yang bertentangan untuk menyindir. Contoh: “Ini dia murid yang sangat disiplin, tiap hari selalu bolos pelajaran.” Sedangkan sinisme merupakan gaya bahasa yang menyindir secara langsung. Contoh: “Tidak pantas seorang berpendidikan tinggi seperti kamu mengucapkan kata-kata kotor seperti itu.” Dan sarkasme merupakan kiasan kata yang sangat kasar. Gaya bahasa seperti ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah. Contoh: “Dasar monyet pemalas, kerja begini saja tak selesai!”

  1. Majas Pertentangan

Pengertian majas pertentangan adalah kiasan kata yang menyatakan pertentangan dengan maksud yang sebenarnya. Majas pertentangan dibagi menjadi empat jenis, yaitu antitesis, paradoks, hiperbola dan litotes. Antitesis merupakan gaya bahasa dengan menggunakan dua pasangan kata yang berlawanan arti. Contoh: “Tumpukan kayu itu ditata rapi panjang pendek, besar kecil sesuai ukurannya.” Sedangkan paradoks merupakan gaya bahasa yang mempunyai pertentangan antara fakta yang ada dan pernyataan. Contoh: “Aku merasa sunyi dalam riuhnya pesta malam ini.” Hiperbola merupakan kiasan kata yang berlebihan dari kenyataan dengan maksud meminta perhatian atau memberikan kesan yang mendalam. Contoh: “Sinar matamu secerah matahari pagi.” Dan itotes adalah kiasan kata untuk menyatakan sesuatu dengan menggunakan kata yang berlawanan dari kenyataannya dengan mengurangi atau mengecilkan. Majas ini biasa digunakan untuk merendahkan diri. Contoh: “Saya ini hanya orang bodoh yang tak berpendidikan, jadi kamu tidak perlu bertanya kepada saya.”

Baca Juga : Wallpaper Mobil Sport dan Gambar Kartun Doraemon

Demikianlah ulasan mengenai berbagai macam majas. Semoga setelah membaca artikel di atas, Anda sudah faham tentang majas. Pengertian majas dan beberapa contoh dari masing-masing jenis majas di atas merupakan contoh yang biasa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Anda yang sedang fokus mempelajari topik ini, sebaiknya pelajarilah lebih mendalam agar lebih menguasai dasar-dasarnya secara lebih detil. Semoga artikel yang kami suguhkan ini dapat bermanfaat bagi Anda sebagai pembuka wacana awal sehingga Anda tertarik mempelajarinya lebih jauh.